Biasanya sore ini aku lihat Jos berjalan
didepan tempat aku nongkrong menyeduh kopi di warung Mbok Juminem.
Tetapi sore ini aku tidak melihat batang hidungnya, dan juga rumahnya
yang disebelah warung Mbok Juminem yang terkunci rapat-rapat seperti
ditinggal penghuninya keluar. Jos adalah anak berusia 13 tahun yang
tinggal bersama neneknya yang sudah tua renta. kehidupan sehari-hari Jos
berjualan asongan dipinggiran jalan raya lampu merah yg tak jauh dari rumah tempat dia tinggal.
"Mbok, sore ini aku tak lihat Jos pulang kerumah. kemana dia?."
"Lho, kamu tidak tahu ya mas, kalau nenek Jos kemarin malam meninggal
dunia. penyakit Asma neneknya Jos kambuh dan seketika itu nyawa nenek
Jos tak bisa diselamatkan." kata Mbok Juminem.
saat itu juga
aku merasa iba dan ingin tahu dimana keberadaan Jos saat ini.
seolah-olah kejadian kematian nenek Jos tidak ada tersiar kabar hening
dan berlalu. berbeda dengan kematian-kematian para pejabat atau
artis-artis yang seolah-olah kita dibuat iba dan prihatin atas kejadian
tersebut. yaa, nenek Jos memang bukan seorang yang dikenal, dia seorang
perempuan tua renta yang ditemani seorang cucu laki-lakinya yang setiap
hari mencari nafkah untuk hidup mereka. kematian bagi seorang yang
miskin hanyalah kematian yang tak mempunyai nilai keberadaan orang
tersebut. masih untung nenek Jos dimakamkan oleh warga setempat dan
diambilkan uang kas warga untuk membeli kain kafan dan sepetak tanah
buat makam nenek Jos.
"Lalu Jos kemana Mbok sekarang?."
"Dia sekarang ikut Simbolon, pimpinan anak-anak jalanan itu lho." kata Mbok Juminem.
saya langsung bergegas dan pergi meninggalkan warung tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar