Kusut, lusuh, kotor, saat kujumpai Jos pagi ini. Matanya masih bengkak, merah, dan layu raut wajahnya, karena sisa-sisa ia menangis semenjak kepergian neneknya. kuajak dia duduk di warung Mbok Juminem sambil kutawarkan dia sarapan pagi ini.
"Kamu pesan apa Jos?. Tak usah malu-malu kali ini aku yang traktir"
"Makasih mas, aku pesen mie rebus aja." Kata Jos.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Indonesia Lupa (Bagian 1)
Biasanya sore ini aku lihat Jos berjalan
didepan tempat aku nongkrong menyeduh kopi di warung Mbok Juminem.
Tetapi sore ini aku tidak melihat batang hidungnya, dan juga rumahnya
yang disebelah warung Mbok Juminem yang terkunci rapat-rapat seperti
ditinggal penghuninya keluar. Jos adalah anak berusia 13 tahun yang
tinggal bersama neneknya yang sudah tua renta. kehidupan sehari-hari Jos
berjualan asongan dipinggiran jalan raya lampu merah yg tak jauh dari rumah tempat dia tinggal.
Rabu, 20 Juni 2012
Teriakan Bisu (Bag I)
Fajar pagi dari ufuk timur belum menampakkan sinarnya, tetapi pagi itu tubuh renta Mbok Sukinem sudah terjaga mengambil seonggok kayu bakar untuk memasak makanan pagi ini. Kayu yang di ambil dari hutan dan dikumpulkan di belakang pawon (jawa; dapur) di tata rapi untuk di bakar di batu perapian. Mbok Sukinem tidak ingin pergi terlambat lebih dari jam 7 pagi untuk bekerja di perkebunan coklat milik PTPN. Tak ada yang mewah di dapur Mbok Sukinem, gerabah kwali beserta koloninya yang menjadi penghias dapur Mbok Sukinem. Bukan Mbok Sukinem tidak mengenal kompor gas beserta tabung LPG. Tetapi karena Mbok Sukinem tidak mampu untuk membeli program pemerintah itu.
Langganan:
Postingan (Atom)