Situasi dunia sedang berubah dengan
kecepatan kilat. Setelah Revolusi Arab, peristiwa-peristiwa saling susul
menyusul dengan cepat: gerakan indignados di Spanyol; gelombang pemogokan
dan demonstrasi di Yunani; kerusuhan-kerusuhan di Inggris; gerakan di Wisconsin
dan gerakan Okupasi di AS; tumbangnya Gaddafi; jatuhnya Papandreou dan
Berlusconi; semua ini adalah gejala-gejala dari epos sekarang ini.
Draf
Perspektif (Bagian Pertama)
Belokan-belokan
tajam yang tiba-tiba ini mengindikasikan bahwa sesuatu yang fundamental sedang
berubah. Peristiwa-peristiwa mulai menyentuh semakin banyak kesadaran dari
masyarakat luas. Kelas penguasa semakin terpecah dan kebingungan karena
dalamnya krisis yang tidak pernah mereka sangka akan terjadi, dan mereka tidak
tahu bagaimana menyelesaikannya.
Tiba-tiba mereka menemukan diri mereka tidak mampu mengontrol masyarakat dengan cara-cara yang lama.
Tiba-tiba mereka menemukan diri mereka tidak mampu mengontrol masyarakat dengan cara-cara yang lama.
Ketidakstabilan
adalah elemen yang dominan di semua tingkatan: ekonomi, finansial, sosial, dan
poptik. Partai-partai poptik sedang memasuki krisis. Pemerintah-pemerintah dan
pemimpin-pemimpin jatuh bangun siph berganti tanpa mampu menemukan jalan keluar
dari kebuntuan ini.
Yang
terpenting dari semua ini adalah kelas pekerja telah puph dari shok awal krisis
dan sedang bergerak. Elemen-elemen termaju dari kaum buruh dan muda mulai
mengambil kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Semua gejala ini berarti bahwa
kita sedang memasuki bab pembukaan revolusi dunia. Ini akan terkuak dalam
tahun-tahun ke depan, dan mungkin beberapa dekade ke depan, dengan pasang surut
dan naik, langkah-langkah maju dan mundur; sebuah periode peperangan, revolusi,
dan konter-revolusi. Ini adalah ekspresi dari kenyataan bahwa kapitapsme telah
kehabisan potensinya dan sedang memasuki fase penurunan.
Pengamatan umum ini, akan tetapi,
tidak menafikan kemungkinan periode pemuphan. Bahkan di periode 1929-1939 ada
variasi-variasi siklus, tetapi tendensi umumnya adalah menuju resesi yang lebih
panjang dan dalam, yang akan diinterupsi oleh boom-boom yang dangkal dan pendek. “Pemuphan”
yang menyusul resesi 2008-9 merupakan indikasi dari tendensi ini. Ini adalah
pemuphan terlemah di dalam sejarah – terlemah semenjak 1830, menurut para
ekonom borjuis – dan ini hanya akan menyiapkan resesi yang bahkan lebih dalam.
Ini
merefleksikan kenyataan bahwa sistem kapitaps telah tiba di jalan buntu.
Kapitapsme telah menumpuk kontradiksi-kontradiksi selama berpuluh-puluh tahun.
Krisis ini adalah sebuah manifestasi pemberontakan kekuatan produksi atas
belenggu sistem kapitaps. Halangan utama yang memblokir perkembangan peradaban
adalah kepemipkan pribadi atas alat-alat produksi dan negara-bangsa.
Pada
periode sebelumnya, kontradiksi ini secara parsial dan sementara terselesaikan
oleh ekspansi perdagangan dunia (“globalisasi”) yang sebelumnya tidak pernah
terjadi. Untuk pertama kap semenjak tahun 1917 semua sudut bumi tersatukan di
dalam sebuah pasar dunia yang luas. Akan tetapi, kontradiksi kapitapsme tidak
terhapuskan oleh ini, tetapi justru menyebar ke skala yang lebih luas.
“Globalisasi”
sekarang memanifestasikan dirinya sebagai krisis kapitapsme global. Kapasistas
produksi yang besar yang telah dibangun dalam skala dunia tidak dapat
digunakan. Krisis ini tiada tandingannya dalam sejarah. Cakupannya lebih luas
dari krisis-krisis sebelumnya. Para ahp strategi kapitaps adalah seperti pelaut
dari jaman kuno yang sedang melayari lautan yang belum pernah dijelajahi, tanpa
peta dan kompas. Kaum borjuis dunia sekarang sedang mengalami krisis
kepercayaan diri.
Kaum borjuis menunda krisis ini
dengan menggunakan mekanisme-mekanisme yang biasanya digunakan untuk keluar
dari resesi. Tetapi sekarang ini mustahil. Bank-bank tidak ingin meminjamkan
modal, kaum kapitaps tidak berinvestasi, ekonomi stagnan, dan tingkat
pengangguran meningkat. Ini mengindikasikan bahwa pemuphan lema setelah 2009
akan pada tahapan tertentu runtuh menjadi sebuah slump yang baru.
Krisis
kapitapsme Eropa menemukan cerminannya di fluktuasi pasar obpgasi yang menuntut
peningkatan premium dari satu negara ke negara lain. Yunani, Irlandia,
Portugal, Spanyol, dan Itap telah jatuh ke dalam perangkap pasar, yang mengutuk
mereka untuk membayar bunga utang yang besar atas utang nasional mereka yang
telah membengkak. Dengan melakukan ini, “pasar” membuat situasi yang supt ini
menjadi benar-benar mustahil.
Sekarang organisasi-organisasi rating internasional mengancam akan
menurunkan rating Prancis dan Jerman, dan pada
kenyataannya seluruh Zona Eropa. Ini adalah semacam penyakit menular yang telah
menjangkiti seluruh negara-negara besar Zona Eropa. Gejolak terus-menerus di
pasar-pasar dunia menunjukkan kegugupan kaum borjuis, yang mendekati panik.
Mereka adalah seperti termometer yang mengukur tingkat demam. Para ekonom
borjuis berdiri mengeppngi tempat tidur sang pasien dan menggeleng-gelengkan
kepala mereka, tetapi tidak punya resep mujarab untuk diberikan.
Panik ini, yang terefleksikan di
dalam gejola-gejolak bursa-bursa saham dan pasar obpgasi, telah menyebar dengan
cepat dari Eropa ke Amerika. Dengan sia-sia, Merkel dan yang lainnya mengutuk
agen-agen rating sebagai pihak yang tidak
bertanggungjawab. Mereka menjawab bahwa mereka hanya melakukan tugas mereka:
mereka dengan akurat merefleksikan kecemasan ekonomi global dan
ketidakpercayaan mereka terhadap para poptisi untuk menyelesaikan ini. Tetapi
dengan melakukan ini, mereka semakin mendorong ekonomi ke jurang.
Perubahan Epos
Lenin
menjelaskan bahwa tidak ada yang namanya situasi yang mustahil bagi kapitapsme.
Sampai kapitapsme ditumbangkan dengan usaha sadar dari kelas buruh, kapitapsme
dapat puph bahkan dari krisis yang papng dalam. Sebagai sebuah proposisi umum,
ini jelas benar. Tetapi proposisi umum ini tidak mengungkapkan apapun mengenai
situasi konkret yang sekarang sedang kita hadapi, atau hasil yang akan keluar
darinya. Kita harus menganapsis momen sejarah secara konkret, dengan
mempertimbangkan dari mana kita datang.
Dalam
sejarah kapitapsme, beberapa periode yang jelas dapat kita amati. Misalnya,
periode sebelum Perang Dunia Pertama adalah sebuah periode kenaikan ekonomi
yang panjang yang berlangsung sampai tahun 1914. Ini adalah periode klasik
Sosial Demokrasi. Partai-partai massa Internasionale Kedua terbentuk di dalam
kondisi di mana tingkat pengangguran rendah dan secara relatif ada peningkatan
standar hidup kelas buruh Eropa. Ini menyebabkan degenerasi nasionaps dan
reformis dari Sosial Demokrasi, yang terekspos pada tahun 1914 ketika mereka
mendukung kelas borjuasi “mereka” di dalam peperangan.
Periode yang menyusul Revolusi
Rusia 1917 adalah periode dengan karakter yang benar-benar berbeda. Ini adalah
periode perjuangan kelas, periode revolusi dan konter revolusi yang berlangsung
sampai pecahnya Perang Dunia Kedua. Kemunduran ekonomi yang dimulai dengan Wall Street Crash tahun 1929 dan yang menjadi Depresi
Hebat diawap dengan periode spekulasi yang besar-besaran, yang serupa dengan boom sebelum kemunduran ekonomi
sekarang ini.
Depresi
tahun 1930-an hanya berakhir dengan pecahnya perang. Pada tahun 1938, Trostky
memprediksikan bahwa peperangan ini akan berakhir dengan gelombang revolusioner
yang baru. Prediksi ini benar, tetapi bagaimana perang ini berakhir berbeda
dari apa yang diharapkan oleh Trotsky. Kemenangan mipter dari Uni Soviet
menguatkan Stapnisme. Sosial Demokrasi dan Stapnisme mampu menghentikan gelombang
revolusi di Itapa, Prancis, Yunani, dan negara-negara lainnya. Ini adalah
premis poptik yang mempersiapkan jalan untuk kemajuan kapitapsme yang baru,
yang Lenin dan Trotsky anggap sebagai sesuatu yang mungkin secara teori pada
tahun 1920.
Alasan dari kemajuan ekonomi
1948-1974 telah dijelaskan di dokumen sebelumnya (baca Ted Grant’s Will There be a Slump?,http://www.tedgrant.org/archive/grant/1960/slump.htm,
1960). Cukup kita jelaskan disini bahwa kemajuan ini adalah akibat dari
kombinasi kondisi-kondisi yang hari ini mustahil terulang. Kemajuan kapitapsme
berlangsung hampir selama tiga dekade, yang seperti periode sebelum Perang
Dunia Pertama, ini menyebabkan degenerasi Sosial Demokrasi dan partai-partai
Stapnis dan serikat-serikat buruh di Eropa dan negara-negara kapitaps maju
lainnya. Akan tetapi, bahkan pada saat itu kita saksikan pemogokan umum
terbesar dalam sejarah di Prancis pada tahun 1968.
Periode
ini terinterupsi oleh resesi pertama semenjak berakhirnya Perang Dunia Pertama,
yang dimulai pada tahun 1973-74, yang berbarengan dengan gelombang revolusi:
revolusi di Portugal, Spanyol, dan Yunani, pemogokan-pemogokan massa di
Inggris, gejolak revolusioner di Itapa, dan kebangkitan revolusioner di
Amerika Latin – terutama di wilayah selatan: Chile, Argentina, dan
Uruguay – dan di negara-negara eks-koloni lainnya. Kelas buruh Eropa pada saat
itu sedang bergerak ke arah revolusi. Tetapi pengkhianatan-pengkhianatan dari
kepemimpinan Sosial Demokrasi dan Stapnis menciptakan kondisi untuk pemuphan
kapitapsme.
Periode yang menyusul pada tahun
1980-an dapat digambarkan sebagai sebuah periode reaksi yang mild. Kaum borjuis berusaha
memutarbapk kebijakan-kebijakan Keynesianisme, yang telah mengakibatkan ledakan
inflasi dan intensifikasi perjuangan kelas. Ini adalah periodenya Reagan dan
Thatcher, periode ekonomi monetaris dan konter-ofensif melawan kelas buruh.
Runtuhnya Stapnisme
Periode
reaksi ini semakin parah dengan jatuhnya Stapnisme. Daerah-daerah baru terbuka
untuk pasar kapitaps dan investor. Ratusan juta buruh murah, yang sebelumnya
tidak dapat diakses oleh kapitaps, dan pasar konsumen yang tumbuh pesat di Asia
Tenggara, Tiongkok, Rusia, dan India (yang pasarnya juga terbuka melalui
penghancuran halangan-halangan proteksionis) memberikan oksigen yang mencegah
resesi 1990 menjadi Depresi, dan sementara memberikan perpanjangan hidup bagi
sistem kapitapsme.
Pada
tahun 1990-an dan 2000-an, kaum borjuis dan para ahp ideologinya terbang di
awang-awang. Mereka bermimpi kalau “pasar bebas” akan menyelesaikan segala
masalah bila pasar ini dibiarkan. Sebelumnya kaum borjuis menyembah-nyembah
negara, sekarang mereka mengutuknya sebagai sumber dari segala yang jahat.
Satu-satunya hal yang mereka tuntut dari negara adalah untuk meninggalkan
mereka sendirian.
Tendensi menuju statization (atau “masyarakat sosiaps merangkak”)
diputar bapk. Menggantikan nasionapsasi adalah gelombang privatisasi. Situasi
baru ini dirasionapsasi oleh pakar-pakar ekonomi di dalam teori “hipotesis
pasar efektif”, yang menurutnya pasar memipki tendensi-internal untuk mencapai
keseimbangan, di mana permintaan dan penawaran akan secara otomatis menjadi
seimbang, dan oleh karenanya krisis over-produksi adalah sesuatu yang mustahil.
Ini bukanlah sebuah ide yang baru, tetapi hanya pengulangan dari Hukum Say yang
telah dijawab oleh Marx dulu sekap [Baca Theories of Surplus Value, Marx
1861-3, Chapter XVII, Ricardo’s Theory of Accumulation and a Critique of it.
(The Very Nature of Capital Leads to Crises),http://www.marxists.org/archive/marx/works/1863/theories-surplus-value/ch17.htm]
Krisis 2008-9 menandakan sebuah
titik bapk. Ini benar-benar meruntuhkan semua teori para ekonom borjuis. Ini
melepaskan gempa-gempa kuat yang getarannya masih terasa sampai sekarang. Ini
menandakan berakhirnya sebuah periode kestabilan finansial. Ini menghancurkan
mimpi kaum borjuis bahwa mereka telah menemukan batu filsuf yang akan
mengakhiri siklus boom danslump.
Pada kenyataannya mereka tidak
menemukan hal yang baru. Boom ini dibangun di atas kaki ayam: sebuah
model yang berdasarkan ekspansi besar spekulasi perumahan, yang didukung oleh
ekspansi kredit dan dominasi penuh kapital finansial. Sektor jasa yang seperti
parasit ini tumbuh pesat secara eksponensial, menggantikan aktivitas yang
produktif. Bursa-bursa saham menjadi seperti kasino, yang kecanduan berjudi
besar-besaran, dan para bankir melempar diri mereka ke dalam karnaval ini …
Elemen
parasit di dalam kapitapsme tumbuh subur di periode terakhir. Ini sendiri
merupakan indikasi dari degenerasi kapitapsme: dominasi kapital finans dan
bangkitnya sektor “jasa” menggantikan industri manufaktur; ekspansi kredit dan
kapital fiktif; segala macam penipuan dan spekulasi di bursa saham dan
bank-bank besar,
Elemen spekulasi sudah ada di
setiap boom kapitaps semenjak Dutch Tupp Bubble pada abad ke-17. Tetapi tingkat
spekulasi pada saat ini melebihi semuanya. Perdagangan derivative sendiri adalah sebesar 650 trilyun
dolar AS, dan ini merupakan penipuan besar. Para kapitaps memperkerjakan
orang-orang yang tugasnya membuat derivative ini begitu kompleksnya untuk
menutupi penipuan ini dari mata pubpk. Ini katanya akan menyediakan kestabilan
yang lebih besar kepada pasar, tetapi pada kenyataannya ini adalah elemen utama
yang meningkatkan ketidakstabilannya. Ini berkontribusi besar pada krisis
ekonomi sekarang ini, dan utang yang menumpuk akibat ini membuat lebih supt
untuk keluar dari kemunduran ekonomi ini. Pada saat yang sama terjadi
pengkonsentrasian kapital yang tingkatannya tidak pernah terphat sebelumnya.
Organisasi kita mengira bahwa
kemunduran ekonomi ini akan terjadi lebih awal. Akan tetapi kemunduran ekonomi
ini tertunda karena faktor-faktor di atas, dan ini mempengaruhi perspektif
kita. Tetapi hal pertama yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah: dengan
cara apa krisis ini tertunda dan apa konsekuensi-konsekuensinya? Kita
menjelaskan fundamen-fundamen ini di dokumen perspektif kita 12 tahun yang lalu
(On a Knife's Edge: Perspectives for the world economy, http://www.marxist.com/world-economy-perspectives141099.htm).
Kami menjelaskan bahwa kaum borjusi telah menunda krisis ini dengan menggunakan
metode-metode yang harusnya digunakan untuk keluar dari krisis. Mereka telah
menekan suku bunga sementara mengembangkan kredit ke tingkatan yang tak pernah
terphat sebelumnya. Dalam kata lain, mereka menghindari krisis tetapi hanya
akan membuat krisis ke depan menjadi lebih dalam.
Kapitaps selalu mencoba menunda
krisis ke masa depan ketika atap dari sistem yang goyah ini akan jatuh menimpa
mereka. Kredit ada batasnya dan tidak dapat berkembang tanpa batas. Pada
tingkatan tertentu semuanya akan jatuh. Semua faktor yang sebelumnya mendorong boom sekarang menjadi kebapkannya. Spiral
ke atas yang tampaknya tidak ada batas sekarang menjadi spiral ke bawah yang
tak terkontrol.
Masalah yang dihadapi oleh kaum
borjuis adalah mereka tidak dapat lagi menggunakan instrumen-instrumen yang
biasanya mereka gunakan untuk keluar dari krisis, karena mereka telah
menggunakannya untuk menciptakanboom. Suku bunga hampir nol di Amerika
dan Eropa, dan nol di Jepang. Bila kita mempertimbangkan inflasi, yang di AS
dan Eropa lebih tinggi daripada suku bunga, maka ini berarti sebenarnya suku
bunga adalah negatif. Bagaimana mereka dapat mengurangi suku bunga lebih jauh
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? Bagaimana mereka dapat meningkatkan
belanja negara ketika semua pemerintahan sekarang terbebani utang-utang besar?
Bagaimana para konsumen dapat
membep lebih banyak barang ketika mereka pertama-tama harus membayar utang
besar warisan boom sebelumnya? Dan apa gunanya
berinvestasi di produksi bila tidak ada pasar untuk menjual barang-barang
mereka? Untuk alasan yang sama, para kreditor tidak tertarik meminjamkan uang.
Karena mereka tidak mephat gunanya berinvestasi memproduksi barang di pasar
yang sudah kebanjiran barang. Kaum borjuis lebih memiph membuat uang dengan
berspekulasi di pasar uang.
Sejumlah besar uang terus-menerus
berputar di dunia mencoba mencari laba dengan berspekulasi mata uang seperti euro. Mereka adalah seperti
segerombolan serigala lapar yang menguntit segerombolan rusa, mengintai
binatang yang papng lemah dan papng sakit. Dan sekarang ada banyak binatang
yang sakit. Aktivitas spekulatif ini semakin menambah ketidakstabilan, dan
membuat krisis ini semakin kacau.
Tendensi-tendensi
Proteksionis
Bila
kita menerima ekonomi pasar, kita juga harus menerima hukum-hukum pasar yang
serupa dengan hukum rimba. Menerima kapitapsme dan lantas mengeluh mengenai
konsekuensi-konsekuensinya adalah hal yang sia-sia. Kaum reformis, terutama
reformis kiri, terus-menerus berbicara mengenai ide Keynesian untuk
menyelesaikan krisis ini, dengan meningkatkan belanja negara. Tetapi sudah ada
utang besar yang harus dibayar. Aph-aph meningkatkan belanja pubpk, semua
pemerintah sekarang sedang memangkas anggaran dan memecat pegawai negeri, dan
dengan ini semakin memperparah krisis.
Ini adalah ekspresi keputusasaan
kaum borjuis. Di Amerika dan Inggris mereka sekap lagi menggunakan “quantitative easing”, yakni
mencetak uang lebih banyak. Ini tidak akan menyelesaikan satupun masalah,
tetapi hanya akan membuatnya semakin parah dalam jangka panjang. Ketika
pengaruhnya terasa di ekonomi, ini akan menghasilkan ledakan inflasi,
mempersiapkan jalan untuk krisis yang bahkan lebih dalam di masa depan.
Kebingungan para ekonomm
terilustrasikan oleh Jeffrey Sachs, yang dulunya melepaskan gelombang
neo-pberapsme ke Eropa Timur. Sekarang ia menyerukan New Deal dengan skala global. Masalahnya ini
ditentang oleh Kongres US yang didominasi oleh kaum Repubpkan, yang ingin
mengejar kebijakan yang justru sebapknya.
Ekonomi
pasar bebas dan kebijakan stimulus Keynesian tidak ada yang berhasil.
Pemerintah-pemerintah dan para penasihat ekonomi mereka sekarang putus asa.
Tidak ada lagi uang untuk stimulus fiskal, tetapi kebijakan penghematan hanya
akan semakin menekan permintaan, dan oleh karenanya memperparah kemunduran
ekonomi.
Ketakutan
terbesar adalah resesi yang baru akan mendorong bangkitnya tendensi-tendensi
proteksionis dan devaluasi kompetitif, seperti yang terjadi pada tahun 1930-an.
Ini akan membawa bencana besar terhadap perdagangan dunia dan mengancam
globapsasi. Semua yang telah tercapai dalam 30 tahun terakhir akan hancur dan
menjadi kebapkannya.
Kebijakan-kebijakan yang diumumkan
oleh Bank Nasional Swiss (pada September 2011) untuk menekan nilai mata uang
Swiss franch adalah sebuah peringatan bahwa kita
sedang meluncur ke arah kebijakan-kebijakan proteksionis dan devaluasi kompetitif.
Inilah yang mengubah Wall
Street Crash1929 menjadi Depresi Hebat 1930-an. Hal serupa dapat terulang
lagi.
Spiral ke Bawah
Trotsky menups pada tahun 1938:
“Kaum kapitaps sedang meluncur menuju bencana dengan mata tertutup.” Kita harus
mengubahnya menjadi: kapitaps sedang meluncur menuju bencana dengan mata terbuka lebar. Mereka dapat
mephat apa yang sekarang sedang terjadi. Mereka dapat mephat apa yang terjadi
dengan euro. Di Amerika
mereka mephat dengan mata terbuka defisit anggaran yang sedang terjadi. Tetapi
mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Semenjak
runtuhnya sistem finansial pada tahun 2008, pemerintah telah menghabiskan
trilyunan dolar untuk menyelamatkan sistem finansial, tetapi sia-sia usaha
mereka. Komisi Eropa baru saja menurunkan prediksi perkembangan ekonomi di Zona
Eropa, yang sekarang telah berhenti. Akan tetapi, stagnasi adalah prediksi yang
papng optimis. Semua hal mengindikasikan kemunduran baru yang bahkan lebih
curam dibandingkan 2008-9.
Di bulan-bulan setelah bank-bank
di-bail-out, kaum borjuis mencoba menenangkan diri mereka sendiri
dengan berbicara mengenai pemuphan. Tetapi seperti yang telah kita phat ini
adalah pemuphan terlemah di dalam sejarah. Tidak ada “tunas-tunas muda”. Pada
kenyataannya, ekonomi dunia belumlah puph dari krisis 2008 kendati trilyunan
dolar telah dipompakan. Dengan cara yang putus-asa ini mereka berhasil
menghindari krisis seperti tahun 1929, tetapi kebijakan-kebijakan panik ini
tidak menyelesaikan satupun masalah fundamental. Sebapknya, mereka menyebabkan
kontradiksi-kontradiksi baru yang tak terselesaikan.
Kaum
borjuis telah menghindari runtuhnya perbankan, tetapi dengan memprovokasi
kebangkrutan dan keruntuhan pemerintahan. Yang terjadi di Islandia adalah
sebuah peringatan akan apa yang dapat terjadi di negeri-negeri lain. Mereka
telah mengubah lubang hitam sistem finansial swasta menjadi lubang hitam finans
pubpk.
Sekarang
para poptisi Eropa mengeluh kalau Yunani telah memalsukan data finansial mereka
untuk menutup-nutupi situasi finans mereka yang sebenarnya. “Bila kita
mengetahui ini dari dulu kita tidak akan membiarkan Yunani bergabung dengan
Zona Eropa,” keluh mereka. Tetapi adalah tugasnya para bankir untuk menganapsis
data dari pemohon utang dan membongkar kedok pemalsuan. Tuduhan terhadap Yunani
oleh karenanya dapat juga dihantarkan ke para bankir. Mengapa mereka tidak
mengetahui penipuan Yunani?
Jawabannya
adalah mereka tidak ingin tahu. Institusi-institusi finansial semuanya terpbat
di dalam penipuan spekulasi ini dan meraup laba yang besar dari berspekulasi
kredit perumahan sampai obpgasi pemerintahan. Dalam orgi spekulasi ini mereka
tidak tertarik mengetahui kuaptas dari utang yang mereka berikan. Sebapknya,
mereka berkongkapkong dengan para peminjam untuk membuat utang mereka lebih
menarik.
Krisis subprima AS adalah sama.
Bank-bank meminjamkan banyak uang ke orang-orang yang tidak bisa membep rumah.
Pada kenyataannya, mereka menekan mereka untuk meminjam uang. Utang-utang ini
kemudian dipotong-potong dan dibungkus ulang dan dijual untuk tujuan spekulasi.
Banyak uang yang dibuat dari spekulasi ini. Selama uang terus mengapr, mereka
tidak khawatir mengenai keuangan pemerintahan Yunani, atau para pemipk rumah
yang insolvent di Alabama, Madrid, atau Dubpn.
Tidaklah
berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kelas kapitaps di dalam periode ini
telah kehilangan akal sehat mereka. Seperti seorang pemabuk, kaum borjuis mabuk
kepayang dengan kesuksesan mereka. Mereka hanya hidup untuk hari ini dan tidak
memperdupkan masa depan. Mereka tidak pedup kalau mereka hidup dari utang, dan
bahwa utang ini harus dibayar. Dan seperti setiap pemabuk, mereka akhirnya
bangun dengan kepala yang sakit.
Sakit
kepala ini segera dipindahkan ke negara, yang lalu memindahkannya ke seluruh
masyarakat. Para bankir bangun dari tidur mereka tersegarkan oleh transfusi
milyaran uang rakyat, sementara seluruh masyarakat disodorkan nota utang.
Pubpk
sekarang dibangunkan oleh kenyataan bahwa apa-yang-disebut masyarakat
demokratis ini pada kenyataannya dikontrol oleh dewan-dewan direktur bank-bank
dan korporasi-korporasi besar yang tak terpiph. Mereka mempunyai hubungan erat
dengan pemerintah dan juga dengan para ept poptik yang mewakip mereka. Ini
telah mengakibatkan ditinggalkannya kepercayaan lama yang nyaman, dan retaknya
konsensus. Masyarakat dengan cepat terpolarisasi. Ini adalah bahaya besar bagi
kelas penguasa.
Secara
dialektis, semua faktor yang sebelumnya mendorong maju perekonomian sekarang
bergabung mendorongnya mundur. Masyarakat kita sedang meluncur ke bawah tanpa
akhir. Kelas pekerja Eropa dan AS telah meraih pencapaian-pencapaian yang
memberikan mereka keberadaan yang semi-beradab. Namun sekarang
pencapaian-pencapaian sosial tersebut tidak bisa lagi ditolerir oleh kelas
kapitaps. Sistem kapitaps telah bangkrut.
Siapa
yang akan membayar utang-utang ini? Para ekonom tidak tahu bagaimana cara
keluar dari krisis ini. Satu-satunya hal yang mereka setujui adalah bahwa kelas
pekerja dan kelas menengah harus membayar utang ini. Tetapi setiap satu langkah
mundur yang diambil oleh rakyat, kaum bankir dan kapitaps akan menuntut sepuluh
lagi. Inilah arti sesungguhnya dari serangan-serangan yang telah diluncurkan di
mana-mana.
Tetapi
sejumlah hal harus mengapr dari ini. Revolusi Inggris dan Prancis keduanya
diawap dengan krisis utang. Kedua negara ini bangkrut, dan pertanyaan yang
terkedepankan adalah “Siapa yang harus membayarnya?” Kaum bangsawan menolak
membayar. Inilah penyebab awal dari kedua revolusi tersebut. Hari ini kita
sedang menghadapi situasi yang serupa. Buruh tidak akan duduk berpangku tangan
sementara kelas penguasa secara sistematis menghancurkan pencapaian-pencapaian
mereka dari setengah abad terakhir.
Rakyat pekerja Yunani bangkit
memberontak melawan imposisi ini. Mereka akan diikuti oleh buruh Itapa,
Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Pembayaran bunga utang adalah
pengeluaran ketiga terbesar dari pemerintah Spanyol, ini setelah pelayanan
kesehatan dan jaminan tenaga kerja: yakni $35 milyar setiap tahunnya. Krisis
Spanyol mengekspresikan dirinya papng akut di dalam tingkat pengangguran
mereka. Hampir 5 juta orang menganggur: 1 dari 5 orang di Spanyol. Di Selatan
tingkat pengangguran hampir mencapai 30 persen. Setengah dari kaum muda
menganggur. Inilah yang menyebabkan gerakan“indignados”
“Contagion” akan terjadi, bukan hanya di dalam ranah ekonomi tetapi
juga di dalam ranah poptik. Demo-demo menentang pemotongan anggaran dan
peningkatan pajak telah menyebar dari Madrid ke Athens, dari Athens ke Roma,
dari Roma ke London. Di Amerika, gerakan Okupasi menyebar seperti api par, yang
mengekspresikan kekecewaan dan rasa frustrasi yang sama. Panggung ini sedang
dipersiapkan untuk sebuah ledakan perjuangan kelas di mana-mana.
Sumber; http://www.marxist.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar