Fajar pagi dari ufuk timur belum menampakkan sinarnya, tetapi pagi itu tubuh renta Mbok Sukinem sudah terjaga mengambil seonggok kayu bakar untuk memasak makanan pagi ini. Kayu yang di ambil dari hutan dan dikumpulkan di belakang pawon (jawa; dapur) di tata rapi untuk di bakar di batu perapian. Mbok Sukinem tidak ingin pergi terlambat lebih dari jam 7 pagi untuk bekerja di perkebunan coklat milik PTPN. Tak ada yang mewah di dapur Mbok Sukinem, gerabah kwali beserta koloninya yang menjadi penghias dapur Mbok Sukinem. Bukan Mbok Sukinem tidak mengenal kompor gas beserta tabung LPG. Tetapi karena Mbok Sukinem tidak mampu untuk membeli program pemerintah itu. Rabu, 20 Juni 2012
Teriakan Bisu (Bag I)
Fajar pagi dari ufuk timur belum menampakkan sinarnya, tetapi pagi itu tubuh renta Mbok Sukinem sudah terjaga mengambil seonggok kayu bakar untuk memasak makanan pagi ini. Kayu yang di ambil dari hutan dan dikumpulkan di belakang pawon (jawa; dapur) di tata rapi untuk di bakar di batu perapian. Mbok Sukinem tidak ingin pergi terlambat lebih dari jam 7 pagi untuk bekerja di perkebunan coklat milik PTPN. Tak ada yang mewah di dapur Mbok Sukinem, gerabah kwali beserta koloninya yang menjadi penghias dapur Mbok Sukinem. Bukan Mbok Sukinem tidak mengenal kompor gas beserta tabung LPG. Tetapi karena Mbok Sukinem tidak mampu untuk membeli program pemerintah itu. Meniti Jalan Radikal
DISKUSI tiga tokoh komunis itu berlangsung alot. Hari itu, pada suatu siang Maret 1948, Paul de Groot, Musso, dan Soeripno bertemu di Praha, Cekoslovakia. De Groot merupakan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Belanda. Adapun dua nama terakhir tokoh komunis Indonesia.Pertemuan itu dilakukan untuk merumuskan strategi baru gerakan komunis Indonesia. De Groot, dalam pertemuan itu, menghendaki Indonesia tetap menganut garis front rakyat yang lebih kooperatif. Adapun lawan diskusinya tak sependapat. Musso ingin komunis Indonesia memakai garis perjuangan radikal. Ia menolak gagasan rekannya dari Belanda itu, yang dinilai terlalu "lembek".
Diskusi juga melebar ke soal status hubungan Indonesia-Belanda. De Groot ingin hubungan dua negeri ini dalam kerangka persemakmuran, sedangkan Musso menginginkan kemerdekaan sepenuhnya. Jalan tengah akhirnya dicapai. Disepakati Belanda akan diberi keleluasaan di bidang ekonomi dan kebudayaan.
Langganan:
Komentar (Atom)